Alah bisa karena biasa. Barangkali oleh
sebab itulah jika kini saya melihat tayangan-tayangan iklan yang
modelnya adalah perempuan cantik berbaju minim, saya merasa biasa-biasa
saja. Nafsu pasti ada. Yang saya maksudkan biasa-biasa saja adalah
rasa melihat atau mendapatinya. Toh yang saya lihat adalah perempuan berbaju minim di kejauhan sana, di dalam kotak TV; bukan di depan saya.
Saya sering melihat artis-artis cantik
di TV, dan rasanya tidak begitu mendebarkan; tidak sampai membuat
jantung saya berdegup kencang karena gugup. Lain halnya pada saat saya
bersua perempuan cantik secara virtual. Meskipun tidak sampai
mendebarkan dada, tapi rasa gugup selalu ada. Lebih-lebih kalau
perempuannya saya kagumi. Ada sensasi yang berbedalah dengan saat
mendapati atau melihat perempuan cantik lewat media.
Sampai ketika pagi tadi, seberangkatnya
saya ke sekolah, saya tidak sengaja mendapati perempuan berbaju minim
di belokan jalan itu. Gila! Pakaiannya benar-benar minim. Atasannya topless. Bawahannya di atas lutut sekitar 10 senti. Mending kalau putih mulus, ini hitam lagi kulitnya :p
Tapi bagaimanapun juga, saya sangat
tercengang saat mendapatinya nyata di depan mata kepala saya sendiri.
Bukan berlebihan. Tapi saya benar-benar baru kali ini mendapati
perempuan berpakaian minim yang bisa saya lihat langsung oleh mata
keranjang eh telanjang.
Kalau mau, setiap harinya saya bisa
dapati perempuan berbaju minim semodel itu di sini. Bagaimana tidak,
saya tinggal di kota Bandung yang terkenal dengan… hm, apanya ya? Perempuan-perempuannya yang cantik kan kalau tidak salah? Heu heu…
Tinggal melangkahkan kaki ke salah satu pusat perbelanjaan di sini,
kemudian pasang mata tanpa berkedip, maka teranglah segala objek yang
ditangkapnya. Mulai dari perempuan yang pakainnya ketat sampai minim,
lengkap! *Setan!
Tapi untunglah, saya orangnya tidak suka berkeliaran. Kalau pun ada perlu, suka saya titipkan. Asyik kan menyuruh orang? Haha.
Untuk yang satu tadi pagi, saya
benar-benar tercengang. Hal menyebalkan itu benar-benar ada di depan
mata kepala saya! Belum lagi kenyataan beberapa orang yang tepat berada
di seberang jalan yang mau saya seberangi. Tukang bubur begitu
memfokuskan pandangannya pada si perempuan jalang itu. Kemudian ada
mahasiswa yang mengendarai sepeda motor yang hendak menyeberangi jalan
itu, sampai menunda penyeberangannya.
Masya Allah, perempuan yang begitu
dimuliakan dalam Islam, dengan berpakaian seperti itu menjadi tontonan
murahan. Auratnya yang dapat merangsang birahi kaum Adam sengaja
diumbar. Maka tak ayal lagi jika dulu Nabi SAW menyatakan salah satu
fitnah terbesar di dunia itu adalah karena wanita. Oleh sebab itulah,
dalam Islam ada aturan tersendiri bagi kaum Hawa. Salah satunya adalah
kewajiban menutup aurat dan mengenakan jilbab jika keluar rumah.
Tapi sayang seribu lima ratus tujuh puluh
tiga kali sayang, perempuan zaman sekarang suka susah kalau
diingatkan. Katanya, kebebasan berekspresilah, hak asasilah, kodrat
kaum perempuanlah, inilah, itulah, dan bla bla bla lainnya.
Tak usah jauh-jauh. Beberapa dari kawan perempuan saya pun begitu.
Lebih parah kalau sudah ada yang ngomong seperti ini, “Yang utama kan menutupi hati dulu, baru setelah itu menutupi kepala.”
Lemas saya mendengarnya. Pembenaran dari
mana itu? Padahal, dalam al-Quran pun tidak ada persyaratan bahwa
untuk menutup aurat itu harus menutupi hati terlebih dulu. Elaknya
begini, “Buat apa juga berkerudung kalau kelakuannya tidak baik?”
Semakin lemas saja saya mendengarnya.
Dari mana pula ada relevansi antara perilaku yang baik dengan pemakaian
kerudung? Lagi pula kewajiban menutup aurat dengan kewajiban
berperilaku baik (akhlak karimah) itu berbeda. Masih mending kalau ada
yang bilang seperti ini, “Saya tuh belum bisa menutup aurat karena pakaiannya itu lho yang nggak modis…”
Nah, kepada siapa saja yang merasa keberatan untuk menutup aurat
karena sebab modis tidak modis, sesuka kalian sajalah dalam memodiskan
pakaian penutup aurat itu. Asal syar’i saja.
Bagaimana yang syar’i itu? Tidak lain
dan tidak bukan adalah kerudung yang lebarnya sampai dapat menutupi
dada (an-Nur ayat 31), jilbab longgar yang dapat menutup seluruh tubuh
(al-Ahzab ayat 59) dan jenis pakaian syar’i dari keduanya yang tidak
ketat.
“Dua golongan ahli Neraka yang belum pernah aku lihat ialah; satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan untuk memukul manusia, dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk Surga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau Surga itu dapat dicium dari jarak yang jauh.” (HR. Muslim)
Jadi, hey para wanita yang mengaku
Muslimah, tutuplah aurat kalian dengan kerudung dan jilbab. Jangan
takut tidak modis. Modiskan saja sesuka kalian. Ibarat kata nih,
kerudungnya mau dibikin seperti model topeng Batman dan jilbabnya
bersayap bak Superman, terserah! Asal jangan model kuntilanak saja. Heu
heu…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar