#Label1 .widget-content{ height:200px; width:auto; overflow:auto; }

Rabu, 04 Maret 2015

Rahasia Ilmiah Mengapa Pacaran Dilarang Dalam Islam

Dua tahun lalu, tepatnya tahun 2012, peneliti University of St. Andrews di Inggris mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa ketika fisik perempuan tersentuh oleh pria, suhu kulit tubuh perempuan akan meningkat, khususnya di bagian wajah dan dada.
Riset berjudul “The Touch of a Man Makes Women Hot” dan dipublikasikan di LiveScience, 29 Mei 2012 itu menunjukkan, sentuhan dari pria terbukti mampu membakar gairah seks wanita.
“Perempuan menunjukkan peningkatan suhu ketika mereka terlibat dalam kontak sosial dengan laki-laki,” ungkap salah satu peneliti dari University of St. Andrews, Amanda Hahn.
Hasil riset menemukan, wajah biasanya akan memanas ketika kita sedang mengalami tekanan (stres), takut, atau marah. Emosi lain juga memengaruhi perubahan suhu tubuh.
Peneliti, melakukan eksperimen terhadap sejumlah laki-laki dan perempuan di Inggris. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi rangsangan dengan memperlihatkan foto perempuan heteroseksual, sambil diberi sentuhan pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, telapak tangan, wajah, dan dada, dengan menggunakan sinar probe. Sedangkan pada kelompok lain, responden mendapat sentuhan nyata dari pasangan (sebagai experimenter) pada bagian tubuh yang sama.
Ketika merasakan sentuhan tersebut, perempuan akan mengalami peningkatan suhu kulit sampai 10 derajat Celcius. Efeknya dianggap tidak cukup besar, karena bagian tubuh yang disentuh hanya lengan atau telapak tangan (bagian dada dan wajah paling banyak mengalami perubahan). Lonjakan suhu menjadi tiga kali lebih besar ketika experimenter-nya pria.
Namun ketika pria menyentuh bagian dada dan wajah wanita, suhu tubuhnya meningkat lebih panas 0,3 derajat Celsius. Perubahan suhu terbesar terjadi pada wajah.
Namun, tim peneliti tidak dapat mengatakan apakah perubahan tersebut dapat ditangkap dengan jelas oleh mata telanjang, atau apakah hal itu dapat terdeteksi dengan sentuhan.
Bagi pasangan lelaki dan perempuan yang sedang pacaran atau bertunangan, inilah alasan dan sebab mengapa Anda tak perlu bersentuhan dengan bukan mahram.
Islam melarang berpacaran, berpelukan dan bersentuhan dengan lawan jenis sebelum menikah karena sentuhan melahirkan gerakan otak, kemaluan dan nafsu. Ini sesuai dengan pesan agama Islam dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada fitnah para wanita.[HR Al-Bukhari no 5096]
Setelah tahu bahaya bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, sebaiknya memilih menikah saja, bukan pacaran.*

Di Mana Kerudung dan Jilbabmu, Kawan?

Alah bisa karena biasa. Barangkali oleh sebab itulah jika kini saya melihat tayangan-tayangan iklan yang modelnya adalah perempuan cantik berbaju minim, saya merasa biasa-biasa saja. Nafsu pasti ada. Yang saya maksudkan biasa-biasa saja adalah rasa melihat atau mendapatinya. Toh yang saya lihat adalah perempuan berbaju minim di kejauhan sana, di dalam kotak TV; bukan di depan saya.
Saya sering melihat artis-artis cantik di TV, dan rasanya tidak begitu mendebarkan; tidak sampai membuat jantung saya berdegup kencang karena gugup. Lain halnya pada saat saya bersua perempuan cantik secara virtual. Meskipun tidak sampai mendebarkan dada, tapi rasa gugup selalu ada. Lebih-lebih kalau perempuannya saya kagumi. Ada sensasi yang berbedalah dengan saat mendapati atau melihat perempuan cantik lewat media.
Sampai ketika pagi tadi, seberangkatnya saya ke sekolah, saya tidak sengaja mendapati perempuan berbaju minim di belokan jalan itu. Gila! Pakaiannya benar-benar minim. Atasannya topless. Bawahannya di atas lutut sekitar 10 senti. Mending kalau putih mulus, ini hitam lagi kulitnya :p
Tapi bagaimanapun juga, saya sangat tercengang saat mendapatinya nyata di depan mata kepala saya sendiri. Bukan berlebihan. Tapi saya benar-benar baru kali ini mendapati perempuan berpakaian minim yang bisa saya lihat langsung oleh mata keranjang eh telanjang.
Kalau mau, setiap harinya saya bisa dapati perempuan berbaju minim semodel itu di sini. Bagaimana tidak, saya tinggal di kota Bandung yang terkenal dengan… hm, apanya ya? Perempuan-perempuannya yang cantik kan kalau tidak salah? Heu heu… Tinggal melangkahkan kaki ke salah satu pusat perbelanjaan di sini, kemudian pasang mata tanpa berkedip, maka teranglah segala objek yang ditangkapnya. Mulai dari perempuan yang pakainnya ketat sampai minim, lengkap! *Setan!
Tapi untunglah, saya orangnya tidak suka berkeliaran. Kalau pun ada perlu, suka saya titipkan. Asyik kan menyuruh orang? Haha.
Untuk yang satu tadi pagi, saya benar-benar tercengang. Hal menyebalkan itu benar-benar ada di depan mata kepala saya! Belum lagi kenyataan beberapa orang yang tepat berada di seberang jalan yang mau saya seberangi. Tukang bubur begitu memfokuskan pandangannya pada si perempuan jalang itu. Kemudian ada mahasiswa yang mengendarai sepeda motor yang hendak menyeberangi jalan itu, sampai menunda penyeberangannya.
Masya Allah, perempuan yang begitu dimuliakan dalam Islam, dengan berpakaian seperti itu menjadi tontonan murahan. Auratnya yang dapat merangsang birahi kaum Adam sengaja diumbar. Maka tak ayal lagi jika dulu Nabi SAW menyatakan salah satu fitnah terbesar di dunia itu adalah karena wanita. Oleh sebab itulah, dalam Islam ada aturan tersendiri bagi kaum Hawa. Salah satunya adalah kewajiban menutup aurat dan mengenakan jilbab jika keluar rumah.
Tapi sayang seribu lima ratus tujuh puluh tiga kali sayang, perempuan zaman sekarang suka susah kalau diingatkan. Katanya, kebebasan berekspresilah, hak asasilah, kodrat kaum perempuanlah, inilah, itulah, dan bla bla bla lainnya. Tak usah jauh-jauh. Beberapa dari kawan perempuan saya pun begitu. Lebih parah kalau sudah ada yang ngomong seperti ini, “Yang utama kan menutupi hati dulu, baru setelah itu menutupi kepala.
Lemas saya mendengarnya. Pembenaran dari mana itu? Padahal, dalam al-Quran pun tidak ada persyaratan bahwa untuk menutup aurat itu harus menutupi hati terlebih dulu. Elaknya begini, “Buat apa juga berkerudung kalau kelakuannya tidak baik?
Semakin lemas saja saya mendengarnya. Dari mana pula ada relevansi antara perilaku yang baik dengan pemakaian kerudung? Lagi pula kewajiban menutup aurat dengan kewajiban berperilaku baik (akhlak karimah) itu berbeda. Masih mending kalau ada yang bilang seperti ini, “Saya tuh belum bisa menutup aurat karena pakaiannya itu lho yang nggak modis…” Nah, kepada siapa saja yang merasa keberatan untuk menutup aurat karena sebab modis tidak modis, sesuka kalian sajalah dalam memodiskan pakaian penutup aurat itu. Asal syar’i saja.
Bagaimana yang syar’i itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kerudung yang lebarnya sampai dapat menutupi dada (an-Nur ayat 31), jilbab longgar yang dapat menutup seluruh tubuh (al-Ahzab ayat 59) dan jenis pakaian syar’i dari keduanya yang tidak ketat.
“Dua golongan ahli Neraka yang belum pernah aku lihat ialah; satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan untuk memukul manusia, dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk Surga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau Surga itu dapat dicium dari jarak yang jauh.” (HR. Muslim)
Jadi, hey para wanita yang mengaku Muslimah, tutuplah aurat kalian dengan kerudung dan jilbab. Jangan takut tidak modis. Modiskan saja sesuka kalian. Ibarat kata nih, kerudungnya mau dibikin seperti model topeng Batman dan jilbabnya bersayap bak Superman, terserah! Asal jangan model kuntilanak saja. Heu heu…

Do'a Ketika Berhutang

Diriwayatkan oleh Turmudzi dari Ali r.a. dan dinyatakan hasan, bahwa seorang budak mukatab menemuinya, katanya: "Saya tak mampu untuk menebus diriku, maka bantulah daku!" Ujar Ali: "Maukah kamu saya tunjuki doa yang diajarkan kepadaku oleh Nabi saw. yang bila kamu ucapkan walau utangmu sebesar Gunung Shabar sekalipun, tentulah utangmu itu akan dibayarkan oleh Allah. Ucapkanlah:  (Ya Allah, cukupilah kebututuhanku dengan yang halal dengan menghindarkan yang haram, dan jadikanlah daku berkecukupan demi kemuraham-Mu daripada selain-Mu)."
Berkata Sa'id: "Pada suatu hari Rasulullah saw. masuk ke masjid. Kiranya di sana ada seorang laki-laki Anshar, Abu Umamah namanya. Maka tanya Rasulullah saw.:'Hai Abu Umamah, kenapa saya lihaat Anda berada di sini padahal bukan waktu shalat '? 
Ujarnya: 'Kesusahan yang tak hendak berpisah dariku, begitu pun utang-utangku, ya Rasulullah'!
Sabda Nabi: 'Maukah Anda saya ajari doa yang bila Anda baca, maka Allah akan melenyapkan kesusahan dan membayarkan utang-utang Anda'?
'Mau, ya Rasulullah'! ujarnya.
Sabda Nabi saw pula: 'Nah, bacalah di waktu pagi dan petang:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan duka, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari hutang yang tidak terbayar dan dari musuh yang sewenang-wenang).
Kata Abu Umamah: 'Saya lakukanlah apa yang diajarkan oleh Nabi tersebut. Maka lenyaplah rasa susahku dan utang-utangku pun dibayarkan oleh Allah."
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Do'a Thawwaf Dan Sa'i Yang Sesuai Tuntunan Sunnah

Dalam pengertian umum Ibadah Thawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dimana tiga putaran pertama . dengan lari - lari kecil (jika mungkin), dan selanjutnya berjalan biasa. Thawwaf dimulai dan berakhir di Hajar Aswad ( tempat batu hitam ) dengan menjadikan Baitullah disebelah kiri. Dalam hal bacaan do'a dan dzikir, silakan pilih mana yang dirasanya baik tanpa mengikat diri dengan suatu do'a tertentu atau mengikuti apa yang diajarkan oleh Muthawwif - pembimbing thawwaf - . Dalam hal ini tidak ada jenis dzikir tertentu yang diharuskan oleh syara' (hukum agama). Mengenai kata orang ada do'a dan dzikir tertentu yang diharuskan buat putaran pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, maka tidak berdasar, dan tidak ada dihafalkan dari Rasulullah saw. Maka orang yang berthawaf boleh berdo'a apa saja yang dirasanya baik, berupa kepentingan dunia dan akhirat, buat diri dan kaum keluarganya. Hanya saja, diterima beberapa do'a yang berasal dari Rasulullah saw. mengenai beberapa amalan di dalamanya. Dan mengikuti apa yang dicontohkan Nabi saw. adalah lebih baik, karena itu berarti mengamalkan sunnah Nabi yang sudah pasti ada tambahan pahala dan menunjukkan kecintaan kepada beliau. Postingan ini hanya mencantumkan do'a yang berasal dari Nabi saw. sesuai dengan judul di atas. 

Tata Cara Thawwaf Dan Bacaannya

  1. Memulai thawafnya dengan menyisir dekat Hajar Aswad, sambil mencium, menyapu atau memberi isyarat bagaimana dapatnya; lalu diucapkan:                      بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَر اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ  وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ ووفاء بعهدك   وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ                                                                                           (Bismilllaahi Wallaahu akbar, allaahumma iimaanan bika watashdiiqan bikitaabika, wawafaa'an bi'ahdika wattiibaa'an li sunnatin nabiyyi shallallaahu 'alaihi wa sallam.). Artinya: "Dengan nama Allah,   Allah yang maha besar, Ya Allah, demi keimanan kepda-Mu, dan membenarkan kitab suci-Mu, memenuhi janji dengan-Mu serta mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad saw." [1]. 
  2. Disunnatkan berjalan cepat pada tiga putaran pertama; langkah hendklah diperpendek dan dipercepat, dan sedapat mungkin mendekatkan diri ke ka'bah. Kemudian pada empat kali putaran selanjutnya hendaklah ia berjalan seperti biasa. Bagi yang tidak dapat berjalan cepat atau mendekati ka'bah, bolehlah thawwaf sebagaimana dapatnya, dan disunatkan menyapu rukun Yamani dan mencium Hajar Aswad atau mengusapnya pada setiap kali dari 7 putaran itu.
  3. Memperbanyak do'a dan dzikir.                                                                                            a. Saat menghadap Hajar Aswad membaca:                                                                        بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَر اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ  وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ ووفاء بعهدك   وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ                                                                                           (Bismilllaahi Wallaahu akbar, allaahumma iimaanan bika watashdiiqan bikitaabika, wawafaa'an bi'ahdika wattiibaa'an li sunnatin nabiyyi shallallaahu 'alaihi wa sallam.). Artinya: "Dengan nama Allah,   Allah yang maha besar, Ya Allah, demi keimanan kepda-Mu, dan membenarkan kitab suci-Mu, memenuhi janji dengan-Mu serta mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad saw." [1].                                                                                                    b. Jika telah mulai thawwaf, diucapkan:      سُبْحَان اللهِ وَ الْحَمْدُ لِلّهِ وَ لآ اِلهَ اِلّا اللّهُ، وَ اللّهُ اَكْبَرُ وَلا حَوْلَ وَلاَ قُوَّة ِ الَّا بِاللّهِ (Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, wala haulaa walaa kuwwata illaa billaah). Artinya: "Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, dan tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Mahabesar dan tiada daya maupun tegaga kecuali dengan Allah." [2]. 
  4. Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca:                                                رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ                   (Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar).  ” Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka".[3].
  5. Jika telah selesai 7 putaran, shalatlah dua rakat'at dekat maqam Ibrahim, sambil membaca:                                             وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى                                 (Wattakhidzuu mim maqaami ibraahiima mushalla)  Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat" [4]. Dengan demikian berakhirlah thawwaf, kemudian dilanjutkan dengan sa'i.
Keterangan:

  1. Syafi'i : "Saya ingin agar setiap berdekatan dengan hajar aswad, seseorang membaca takbir, dan waktu berjalan cepat agar berdo'a" اللهم اجعله حجاً مبرورا وذنبا مغفوراً وسعيا مشكورا (Allahummaj'alhu hajjan mabruuraa wadzanban maghfuuraa wasa'yan masykuuraa)     Artinya:"Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur, dosaku diampuni, dan sa'iku dihargai!). Sedang pada setiap putaran thawwaf dibaca:                        رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ عَمَّا تَعْلَمُ ,و أَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ أللهم  آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   (Rabbighfir warham wa'fu ammaa ta'lam, waantal-a'azzul akram. Allaahumma aatinaa fid dun-yaa haanah wafil aakhirati hasanah waqinaa 'adzaaban naar). Artinya: " Ya Tuhanku, ampunilah daku dan kasihanilah, dan maafkan kesalahan-kesalahanku yang Engkau ketahui, dan Engkaulah Yang Mahakuat dan Mahamulia. Ya Allah, berilah kami di dunia ini kebaikan, dan di akhirat juga kebaikan, dan lindungilah kami dari siksa neraka."
  2. Dan diterima dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ia biasa membaca diantara dua sudut Ka'bah:             أللهم قنئنى بما رزقتني وبارك لي فيه واخلف علي كل غابتن بخير (Allaahummaa qanni'nii bimaa razaqtanii wabaarik lii fiihi, wakhlif 'alaiya kulla ghaaibatin bikhair) Artinya: :"Ya Allah, berilah daku kecukupan dengan rezeki yang telah Engkau berikan kepadaku, dan berilah daku berkah padanya, serta gantilah segala barang  yang hilang dengan yang baik." [5].
  3. Membaca Al-Qur'an bagi orang yang thawwaf: Tak ada halangannya bila orang sedang thawwaf itu membaca AL-Qur'an. Karena maksud disyari'atkannya thawwaf itu ialah untuk mengingat Allah, sedang Al-Qur'an itu berisikan dzikir - ingat - kepada Allah. Diterima dari 'Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Diadakannya thawwaf di ka'bah, sa'i antara shafa dan Marwa, dan melempar jumrah-jumrah itu tiada lain hanyalah buat membangkitkan dzikir kepada Allah Ta'ala." [6].

Sunnah Dan Do'a-Do'a Sa'i


  1. Disunnahkan berjalan biasa diantara shafa dan Marwa, kecuali diantara dua tiang, maka disunatkan berjalan cepat - berlari-lari kecil - Dicantumkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi saw. berlari hingga karena cepatnya, sarungnya terbelit sekitar pinggangnya. Dan jika seseorang berjalan tanpa berlari, maka hukumnya boleh. Diterima dari Sa'id bin Juberi r.a., katanya:"Saya  melihat Ibnu Umar r.a. berjalan diantara Shafa dan Marwa." Lalu katanya lagi: "Jika saya berjalan biasa maka telah saya lihat Rasulullah saw. juga berjalan. Dan jika saya berlari-lari kecil, maka saya juga pernah meliihat Rasulullah saw. berlari. Hanya sekarang ini saya sudah tua bangka!" [7]Hukum sunah itu hanyalah khusus bagi laki-laki, adapun wanita maka tidaklah disunatkan mereka berlari, cukup berjalan seperti biasa.
  2. Disunahkan naik Shafa dan Marwa dan berdoa di sana memohon apa juga yang dikehendaki mengenai kepentingan agama maupun dunia dengan menghadap ke Baitullah. Yang dikenal dari perbuatan Nabi saw. ialah bahwa mula-mula ia keluar dari Baabush Shafa. Tatkala dekat ke Shafa dibacanya: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ (Innash shafaa wal marwata min sya'aairillaah) Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah."[8]. Kemudian ucapkanlah: أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ (abdau bimaa badaallaahu bih) "Kami memulai dengan apa yang dengannya Allah memulai."
  3. Maka dimulainya dengan Shafa, lalu naik ke atasnya hingga tampak Baitullah, lalu menghadap kiblat, membaca kalimat tauhid dan takbir tiga kali serta memujinya, lalu membaca: لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي ويُمِييْتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَه    (Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyiii wayumiitu wahuwa 'alaa kulli syai'in qadiir. Laa ilaaha illallaahu wahdah, anjaza wa'dahu manashara 'abdahu wa hazamal ahzaaba wahdah.) "Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, hanya bagiNya segala kerajaan dan hanya bagiNya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang haq melainkan Dia, tiada sekutu bagiNya, yang menepati janjiNya, yang memenangkan hambaNya dan yang menghancurkan golongan-golongan (kafir) dengan tanpa dibantu siapa pun." Ulangilah dzikir tersebut sebanyak tiga kali dan berdo’alah pada tiap-tiap selesai membacanya dengan do’a-do’a yang Anda kehendaki.
  4. Kemudian turunlah untuk melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Bila Anda berada di antara dua tanda hijau, lakukanlah sa’i dengan berlari kecil (khusus untuk laki-laki dan tidak bagi wanita). Jika Anda telah sampai di Marwah, naiklah ke atasnya dan menghadaplah ke Ka’bah, kemudian ucapkan sebagaimana yang Anda ucapkan di Shafa (do'a point 3). Demikian hendaknya yang Anda lakukan pada putaran berikut-nya. Pergi (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu kali putaran dan kembali (dari Marwah ke Shafa) juga dihitung satu kali putaran hingga sempurna menjadi tujuh kali putaran. Karena itu, putaran sa’i yang ke tujuh berakhir di Marwah. 
  5. Disunnahkan pula berdo'a diantara Shafa dan marwa, berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur'an. Telah diriwayatkan bahwa ketika sa'i Nabi saw. membaca:    رب اغفر وارحم واهدني السبيل الاقوم (Rabbigh fir warham, wahdinis sabiilal aqwaam) Artinya: "Ya Tuhanku, ampunilah dan beri rahmatlah daku, serta tunjukilah daku jalan yang lurus." Dan diriwayatkan pula daripadanya:  رب اغفر وارحمإنك انت الأعز الأكرم (Rabigh fir warham, innaka antal a'azzul akram). Artinya: "Ya Tuhanku, ampunilah dan berilah rahmat daku, sungguh Engkau Mahakuat lagi Mahamulia."
Demikianlah manasik thawwaf dan sa'i, mudah-mudahan bermanfaat bagi jama'ah haji dan umrah, amin.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Nabi Yahya

Nabi Zakaria a.s., ayah kepada Nabi Yahya sedar dan mengetahui bahawa anggota-anggota keluarganya, saudara-saudaranya, sepupu-sepupunya dan anak-anak saudaranya adalah orang-orang jahat Bani Israil yang tidak segan-segan melanggar hukum-hukum agama dan berbuat maksiat, disebabkan iman dan rasa keagamaan mereka belum meresap betul didalam hati mereka, sehingga dengan mudah mereka tergoda dan terjerumus ke dalam lembah kemungkaran dan kemaksiatan. Ia khuatir bila ajalnya tiba dan meninggalkan mereka tanpa seorang waris yang dapat melanjutkan pimpinannya atas kaumnya, bahawa mereka akan makin rosak dan makin berani melakukan kejahatan dan kemaksiatan bahkan ada kemungkinan mereka mengadakan perubahan-perubahan di dalam kitab suci Taurat dan menyalah-gunakan hukum-hukum agama.
Kekhuatiran itu selalu mengganggu fikiran Zakaria disamping rasa sedih hatinya bahawa ia sejak kahwin hingga mencapai usia sembilan puluh tahun, Tuhan belum mengurniakannya dengan seorang anak yang ia idam-idamkan untuk menjadi penggantinya memimpin dan mengimami Bani Isra'il. Ia agak terhibur dari rasa sedih dan kekhuatirannya semasa ia bertugas memelihara dan mengawasi Maryam yang dapat dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi rasa sedihnya dan keinginanya yang kuat untuk memperolehi keturunan tergugah kembali ketika ia menyaksikan mukjizat hidangan makanan dimihrabnya Maryam. Ia berfikir didalam hatinya bahawa tiada sesuatu yang mustahil di dalam kekuasaan Allah. Allah yang telah memberi rezeki kepada Maryam dalam keadaan seorang diri tidak berdaya dan berusaha, Dia pula berkuasa memberinya keturunan bila Dia kehendaki walaupun usianya sudah lanjut dan rambutnya sudah penuh uban.
Pada suatu malam yang sudah larut duduklah Zakaria di mihrabnya menghening cipta memusatkan fikiran kepada kebesaran Allah seraya bermunajat dan berdoa dengan khusyuk dan keyakinan yang bulat. Dengan suara yang lemah lembut dia berdoa: "Ya Tuhanku, berikanlah aku seorang putera yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian dari keluarga Ya'qub, yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Isra'il. Aku khuatir bahawa sepeninggalanku nanti anggota-anggota keluargaku akan rosak kembali aqidah dan imannya bila aku tinggalkan mati, tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikan aku. Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang isteriku adalah seorang perempuan yang mandul. Namun kekuasaan-Mu adalah di atas segala kekuasaan dan aku tidak jemu-jemu berdoa kepadamu memohon rahmat-Mu mengurniai kau seorang putera yang soleh yang engkau redhai."
Allah berfirman memperkenankan permohonan Zakaria: "Wahai Zakaria Kami memberi khabar gembira kepadamu, kamu akan memperoleh seorang putera bernama Yahya yang soleh yang membenarkan kitab-kitab Allah, menjadi pemimpin yang diikuti, bertahan diri dari hawa nafsu dan godaan syaitan serta akan menjadi seorang nabi."Zakaria berkata "Ya Tuhanku, bagaimana aku akan memperolehi anak sedangkan isteriku adalah seorang perempuan yang mandul dan aku sendiri sudah lanjut usia."
Allah menjawab dengan firman-Nya: "Demikian itu adalah suatu hal yang mudah bagi-Ku. Tidakkah aku telah ciptakan engkau, padahal engkau di waktu itu belum ada sama sekali?"Zakaria berkata "Ya Tuhanku, berilah aku akan suatu tanda bahawa isteri aku telah mengandung." Allah berfirman: "Tandanya bagimu bahawa engkau tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari berturut-turut kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama-Ku sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari."
Nabi Yahya bin Zakaria a.s. tidak banyak dikisahkan oleh Al-Quran kecuali bahawa ia diberi ilmu dan hikmah semasa dia masih kanak-kanak dan bahawa ia seorang putera yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah orang yang sombong durhaka. Ia terkenal cerdik pandai, berfikiran tajam sejak ia berusia muda, sangat tekun beribadah yang dilakukan siang dan malam sehingga berpengaruh kepada kesihatan badannya dan menjadikannya kurus kering, wajahnya pucat dan matanya cekung.
Ia dikenal oleh kaumnya sebagai orang alim menguasai soal-soal keagamaan, hafal kitab Taurat, sehingga ia menjadi tempat bertanya tentang hukum-hukum agama. Ia memiliki keberanian dalam mengambil sesuatu keputusan, tidak takut dicerca orang dan tidak pula menghiraukan ancaman pihak penguasa dalam usahanya menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan.Dia selalu menganjurkan orang-orang yang telah berdosa agar bertaubat dari dosa mereka. Dan sebagai tanda taubatnya mereka dimandikan { dibaptiskan } di sungai Jordan, kebiasaan mana hingga kini berlaku di kalangan orang-orang Kristian dan kerana Nabi Yahya adalah orang pertama yang mengadakan upacara itu, maka ia dijuluki "Yahya Pembaptis".
Dikisahkan bahawa Hirodus Penguasa Palestin pada waktu itu mencintai anak saudaranya sendiri bernama Hirodia, seorang gadis yang cantik, ayu, bertubuh lampai dan ramping dan berhasrat ingin mengahwininya. Sang gadis berserta ibunya dan seluruh anggota keluarga menyetujui rencana perkahwinan itu, namun Nabi Yahya menentangnya dan mengeluarkan fatwa bahawa perkahwinan itu tidak boleh dilaksanakan kerana bertentangan dengan syariat Musa yang mengharamkan seorang mengahwini anak saudaranya sendiri.
Berita rencana perkahwinan Hirodus dan Hirodia serta fatwa Nabi Yahya yang melarangnya tersiar di seluruh pelusuk kota dan menjadi pembicaraan orang di segala tempat di mana orang berkumpul. Herodia si gadis cantik calon isteri itu merasa sedih bercampur marah terhadap Nabi Yahya yang telah mengeluarkan fatwa mengharamkan perkahwinannya dengan bapa saudaranya sendiri, yang telah membawa reaksi dan pendapat di kalangan masyarakat yang luas. Dia khuatir bahawa bapa saudaranya, calon suaminya, Herodus, dapat terpengaruh oleh fatwa Nabi Yahya itu dan terpaksa membatalkan perkahwinan yang sudah dinanti-nanti dan diidam-idamkan, bahkan sudah menyiapkan segala sesuatu berupa pakaian mahupun peralatan yang perlu untuk pesta perkahwinan yang telah disepakati itu.
Menghadapi fatwa Nabi Yahya dan reaksi masyarakat itu, Herodia tidak tinggal diam. Ia berusaha dengan bersenjatakan kecantikan dan parasnya yang ayu itu mempengaruhi bapa saudaranya calon suaminya agar rencana perkahwinan dilaksanakan. Dengan merias diri dan berpakaian yang merangsang, ia pergi mengunjungi bapa saudaranya Herodus yang sedang dilanda mabuk asmara. Bertanya Herodus kepada anak saudaranya calon isterinya yang nampak lebih cantik daripada biasa : "Hai manisku, apakah yang dapat aku berbuat untukmu?. Katakanlah. Aku akan patuhi segala permintaanmu. Kedatanganmu kemari pada saat ini tentu didorong oleh sesuatu hajat yang mendesak yang ingin engkau sampaikan kepadaku. Sampaikanlah kepadaku tanpa ragu-ragu, hai sayangku, aku sedia melayani segala keperluan dan keinginanmu."
Herodia menjawab: "Jika Tuanku berkenan, maka aku hanya mempunyai satu permintaan yang mendorongku datang mengunjungi Tuanku pada saat ini. Permintaanku yang tunggal itu ialah kepala Yahya bin Zakaria orang yang telah mengacau rencana kita dan mencemarkan nama baik Tuanku dan namaku sekeluarga di segala tempat dan penjuru. Supaya dia dipenggal kepalanya. Alangkah puasnya hatiku dan besarnya terima kasihku, bila Tuanku memperkenankan permintaanku ini". Herodus yang sudah tergila-gila dan tertawan hatinya oleh kecantikan dan keelokan Herodia tidak berkutik menghadapi permintaan calon isterinya itu dan tidak dapat berbuat selain tunduk kepada kehendaknya dengan mengabaikan suara hati nuraninya dan panggilan akal sihatnya. Demikianlah maka tiada berapa lama dibawalah kepala Yahya bin Zakaria berlumuran darah dan diletakkannya di depan kesayangannya Herodia yang tersenyum tanda gembira dan puas hati bahawa hasratnya membalas dendam terhadap Yahya telah terpenuhi dan rintangan utama yang akan menghalangi rencana perkahwinannya telah disingkirkan, walaupun perbuatannya itu menurunkan laknat Tuhan atas dirinya, diri rajanya dan Bani Isra'il seluruhnya.
Cerita tentang Zakaria dan Yahya terurai di atas dikisahkan oleh Al-Quran, surah Maryam ayat 2 sehingga ayat 15, surah Ali Imran ayat 38 senhingga ayat 41 dan surah Al-Anbiya' ayat 89 sehingga ayat 90.

Nabi Zakaria

Nabi Zakaria, (nama penuh baginda: Zakaria ben Yehoiada ben Yusahafat ben Asa ben Abia ben Rehabeam ben Sulaiman (Nabi Sulaiman a.s) ben Daud (Nabi Daud a.s.)) Baginda Nabi Zakaria, adalah ayah kepada Nabi Yahya a.s.; putera tunggalnya yang lahir setelah ia mencapai usia sangat tua iaitu pada usia sembilan puluh tahun. Sejak beristeri Hanna (Elisabeth), ibu saudaranya Maryam(Mary),Zakaria mendambakan mendapat anak yang akan menjadi pewarisnya. Siang dan malam tiada henti-hentinya ia memanjatkan doanya dan permohonan kepada Allah agar dikurniai seorang putera yang akan dapat meneruskan tugasnya memimpin Bani Israil. Ia khuatir bahawa bila ia mati tanpa meninggalkan seorang pengganti, kaumnya akan kehilangan pemimpin dan akan kembali kepada cara-cara hidup mereka yang penuh dengan mungkar dan kemaksiatan dan bahkan mungkin mereka akan mengubah syariat Musa dengan menambah atau mengurangi isi kitab Taurat sekehendak hati mereka. Selain itu, ia sebagai manusia, ingin pula agar keturunannya tidak terputus dan terus bersambung dari generasi sepanjang Allah mengizinkannya dan memperkenankan.
Nabi Zakaria tiap hari sebagai tugas rutin pergi ke mihrab besar melakukan sembahyang serta menjenguk Maryam anak iparnya yang diserahkan kepada mihrab oleh ibunya sesuai dengan nadzarnya sewaktu ia masih dalam kandungan. Dan memang Zakarialah yang ditugaskan oleh para pengurus mihrab untuk mengawasi Maryam sejak ia diserahkan oleh ibunya. Tugas pengawasan atas diri Maryam diterima oleh Zakaria melalui undian yang dilakukan oleh para pengurus mihrab di kala menerima bayi Maryam yang diserahkan pengawasannya kepadanya itu adalah anak saudara isterinya sendiri yang hingga saat itu belum dikurniai seorang anak pun oleh Tuhan.
Suatu peristiwa yang sangat menakjubkan dan menghairankan Zakaria telah terjadi pada suatu hari ketika ia datang ke mihrab sebagaimana biasa. Ia melihat Maryam disalah satu sudut mihrab sedang tenggelam dalam sembahyangnya sehingga tidak menghiraukan bapa saudaranya yang datang menjenguknya. Di depan Maryam yang sedang asyik bersembahyang itu terlihat oleh Zakaria berbagai jenis buah-buahan musim panas. Bertanya-tanya Nabi Zakaria dalam hatinya, dari mana datangnya buah-buahan musim panas ini, padahal mereka masih berada dalam musim dingin. Ia tidak sabar menanti anak saudaranya selesai sembahyang, ia lalu mendekatinya dan menegur bertanya kepadanya: "Wahai Maryam, dari manakah engkau dapat ini semua?"
Maryam menjawab: "Ini adalah pemberian Allah yang aku dapat tanpa dicari dan diminta. Di waktu pagi dikala matahari terbit aku mendapatkan rezekiku ini sudah berada didepan mataku, demikian pula bila matahari terbenam di waktu senja. Mengapa bapa saudaranya merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah berkuasa memberikan rezekinya kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan?"

Maryam binti Imran

Maryam yang disebut-sebut dalam kisah Zakaria adalah anak tunggal dari Imran seorang daripada pemuka-pemuka dam ulama Bani Isra'il. Ibunya saudara ipar kepada Nabi Zakaria adalah seorang perempuan yang mandul yang sejak bersuamikan Imran belum merasa berbahagia jika belum memperoleh anak. Ia merasa hidup tanpa anak adalah sunyi dan membosankan. Ia sangat mendambakan keturunan untuk menjadi pengikat yang kuat dalam kehidupan bersuami-isteri, penglipur duka dan pembawa suka di dalam kehidupan keluarga. Ia sangat dambakan keturunan sehingga bila ia melihat seorang ibu menggandung bayinya atau burung memberi makan kepada anaknya, ia merasa iri hati dan terus menjadikan kenangan yang tak kunjung lepas dari ingatannya.
Tahun demi tahun berlalu, usia makin hari makin lanjut, namun keinginan tetap tinggal keinginan dan idam-idaman tetap tidak menjelma menjadi kenyataan. Berbagai cara dicubanya dan berbagai nasihat dan petunjuk orang diterapkannya, namun belum juga membawa hasil. Dan setelah segala daya upaya yang bersumber dari kepandaian dan kekuasaan manusia tidak membawa buah yang diharapkan, sedarlah isteri Imran bahawa hanya Allah tempat satu-satunya yang berkuasa memenuhi keinginannya dan sanggup mengurniainya dengan seorang anak yang didambakan walaupun rambutnya sudah beruban dan usianya sudah lanjut. Maka ia bertekad membulatkan harapannya hanya kepada Allah bersujud siang dan malam dengan penuh khusyuk dan kerendahan hati bernazar dan berjanji kepada Allah bila permohonannya dikalbulkan, akan menyerahkan dan menghibahkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk menjadi pelayan, penjaga dan memelihara rumah suci itu dan sesekali tidak akan mengambil manfaat dari anaknya untuk kepentingan dirinya atau kepentingan keluarganya.
Harapan isteri Imran yang dibulatkan kepada Allah tidak tersia-sia. Allah telah menerima permohonannya dan mempersembahkan doanya sesuai dengan apa yang telah disuratkan dalam takdir-Nya bahwa dari suami isteri Imran akan diturunkan seorang nabi besar. Maka tanda-tanda permulaan kehamilan yang dirasakan oleh setiap perempuan yang mengandung tampak pada isteri Imran yang lama kelamaan merasa gerakan janin di dalam perutnya yang makin membesar. Alangkah bahagia si isteri yang sedang hamil itu, bahawa idam-idamannya itu akan menjadi kenyataan dan kesunyian rumah tangganya akan terpecahlah bila bayi yang dikandungkan itu lahir. Ia bersama suami mulai merancang apa yang akan diberikan kepada bayi yang akan datang itu. Jika mereka sedang duduk berduaan tidak ada yang diperbincangkan selain soal bayi yang akan dilahirkan. Suasana suram sedih yang selalu meliputi rumah tangga Imran berbalik menjadi riang gembira, wajah sepasang suami isteri Imaran menjadi berseri-seri tanda suka cita dan bahagia dan rasa putus asa yang mencekam hati mereka berdua berbalik menjadi rasa penuh harapan akan hari kemudian yang baik dan cemerlang.
Akan tetapi sangat benarlah kata mutiara yang berbunyi: "Manusia merancang, Tuhan menentukan. Imran yang sangat dicintai dan sayangi oleh isterinya dan diharapkan akan menerima putera pertamanya serta mendampinginya dikala ia melahirkan , tiba-tiba direnggut nyawanya oleh Izra'il dan meninggallah isterinya seorang diri dalam keadaan hamil tua, pada saat mana biasanya rasa cinta kasih sayang antara suami isteri menjadi makin mesra. Rasa sedih yang ditinggalkan oleh suami yang disayangi bercampur dengan rasa sakit dan letih yang didahului kelahiran si bayi, menimpa isteri Imran di saat-saat dekatnya masa melahirkan. Maka setelah segala persiapan untuk menyambut kedatangan bayi telah dilakukan dengan sempurna lahirlah ia dari kandungan ibunya yang malang menghirup udara bebas. Agak kecewalah si ibu janda Imran setelah mengetahui bahawa bayi yang lahir itu adalah seorang puteri sedangkan ia menanti seorang putera yang telah dijanjikan dan bernazar untuk dihibahkan kepada Baitulmaqdis. Dengan nada kecewa dan sedih berucaplah ia seraya menghadapkan wajahnya ke atas: "Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan seorang puteri, sedangkan aku bernazar akan menyerahkan seorang putera yang lebih layak menjadi pelayan dan pengurus Baitulmaqdis. Allah akan mendidik puterinya itu dengan pendidikan yang baik dan akan menjadikan Zakaria, iparnya dan bapa saudara Maryam sebagai pengawas dan pemeliharanya.
Demikianlah maka tatkala Maryam diserahkan oleh ibunya kepada pengurus Baitulmaqdis, para rahib berebutan masing-masing ingin ditunjuk sebagai wali yang bertanggungjawab atas pengawasan dan pemeliharaan Maryam. Dan kerana tidak ada yang mahu mengalah, maka terpaksalah diundi diantara mereka yang akhirnya undian jatuh kepada Zakaria sebagaimana dijanjikan oleh Allah kepada ibunya. Tindakan pertama yang diambil oleh Zakaria sebagai petugas yang diwajibkan menjaga keselamatan Maryam ialah menjauhkannya dari keramaian sekeliling dan dari jangkauan para pengunjung yang tiada henti-hentinya berdatangan ingin melihat dan menjenguknya. Ia ditempatkan oleh Zakaria di sebuah kamar diatas loteng Baitulmaqdis yang tinggi yang tidak dapat dicapai melainkan dengan menggunakan sebuah tangga. Nabi Zakaria merasa bangga dan bahagia beruntung memenangkan undian memperolehi tugas mengawasi dan memelihara Maryam secara sah adalah anak saudaranya sendiri. Ia mencurahkan cinta dan kasih sayangnya sepenuhnya kepada Maryam untuk menggantikan anak kandungnya yang tidak kunjung datang. Tiap ada kesempatan ia datang menjenguknya, melihat keadaannya, mengurus keperluannya dan menyediakan segala sesuatu yang membawa ketenangan dan kegembiraan baginya. Tidak satu hari pun Zakaria pernah meninggalkan tugasnya menjenguk Maryam.
Rasa cinta dan kasih sayang Zakaria terhadap Maryam sebagai anak saudara isterinya yang ditinggalkan ayahnya meningkat menjadi rasa hormat dan takzim tatkala terjadi suatu peristiwa yang menandakan bahawa Maryam bukanlah gadis biasa sebagaimana gadis-gadis yang lain, tetapi ia adalah wanita pilihan Allah untuk suatu kedudukan dan peranan besar di kemudian hari. Pada suatu hari tatkala Zakaria datang sebagaimana biasa, mengunjungi Maryam, ia mendapatinya lagi berada di mihrabnya tenggelam dalam ibadah berzikir dan bersujud kepada Allah. Ia terperanjat ketika pandangan matanya menangkap hidangan makanan berupa buah-buahan musim panas terletak di depan Maryam yang lagi bersujud. Ia lalu bertanya dalam hatinya, dari manakah gerangan buah-buahan itu datang, padahal mereka masih lagi berada pada musim dingin dan setahu Zakaria tidak seorang pun selain dari dirinya yang datang mengunjungi Maryam. Maka ditegurlah Maryam tatkala setelah selesai ia bersujud dan mengangkat kepala: "Wahai Maryam, dari manakah engkau memperolehi rezeki ini, padahal tidak seorang pun mengunjungimu dan tidak pula engkau pernah meninggalkan mihrabmu? Selain itu buah-buahan ini adalah buah-buahan musim panas yang tidak dapat dibeli di pasar dalam musim dingin ini."
Maryam menjawab: "Inilah peberian Allah kepadaku tanpa aku berusaha atau minta. Dan mengapa engkau merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah Yang Maha Berkuasa memberikan rezekinya kepada sesiapa yang Dia kehendaki dalam bilangan yang tidak ternilai besarnya?" Demikianlah Allah telah memberikan tanda pertamanya sebagai mukjizat bagi Maryam, gadis suci, yang dipersiapkan oleh-Nya untuk melahirkan seorang nabi besar yang bernama Isa a.s. Kisah lahirnya Maryam dan pemeliharaan Zakaria kepadanya dapat dibaca dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 35 hingga 37 dan 42 hingga 44.

Sabtu, 28 Februari 2015

Tafsir Surah An-Naas


(Disarikan dari penjelasan Ustadz Dr. Ahmad Jalaluddin, Lc., M.A.)
Surah An-Naas (Para Manusia), surah ke-114 dalam Al Qur-an, merupakan surah Makkiyah (Allah menurunkannya di Makkah). Salah satu ciri surah Makkiyah adalah pendek-pendek dan banyak berkaitan dengan prinsip aqidah. Di antara fadhilah membaca surah An-Naas, bersama surah Al-Ikhlas dan surah Al-Falaq, yaitu terjaga oleh Allah dari godaan syaitan. Seperti halnya fadhilah membaca surah Al-Baqoroh. Berikut akan kita kupas satu-persatu ayat-ayat dari Surah An-Naas.

Ayat 1

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ ِالنَّاسِ “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.'”
قُلْ adalah sebuah kata perintah untuk satu orang, yang artinya “katakanlah”. Secara redaksional, kata perintah tersebut Allah tujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, tujuannya adalah sebagai ikhbar/berita. Bukan berarti hanya Rasulullah SAW saja yang Allah perintahkan untuk menyatakan permintaan perlindungan kepada Rabb manusia, karena seruan itu untuk seluruh manusia. Pernyataan أَعُوْذُ (aku berlindung) mengandung dua makna:
  • menunjukkan kelemahan pihak yang meminta perlindungan
  • menunjukkan kuatnya pihak yang dimintai perlindungan.
Agar permintaan perlindungan kita diterima oleh Allah, maka jadilah orang yang layak untuk dilindungi. Bagaimanakah caranya? Seumpama dalam sebuah perusahaan, ada seseorang (bukan karyawan) yang bekerja sangat giat, bahkan hingga melebihi kinerja karyawan perusahaan itu sendiri. Saat ia meminta balas jasa (upah/gaji), perusahaan tak bisa mengabulkannya. Mengapa? Karena ia tak terdaftar sebagai karyawan. Bahkan sebagai pekerja lepas pun ia tidak terdaftar. Kita bisa mengambil pelajaran, bahwa sebanyak apapun amal seseorang, jika ia tidak “terdaftar” sebagai hamba Allah, bagaimana bisa ia mengharap imbalan dariNya?
Maka, untuk dapat menjadi termasuk orang yang layak untuk meminta perlindungan dari Allah, seseorang perlu menanamkan pengakuan diri atas keesaan Allah. Hanya Allah sajalah yang seharusnya menjadi dasar motivasi kita dalam beramal.
Dalam surah An-Naas ini, Allah menggambarkan tiga sifatNya sebagai:
  • ربّ الناس (Rabb-nya manusia)
  • ملك الناس (Rajanya manusia)
  • إله الناس (Sesembahannya manusia).
Pada ayat pertama, disebutkan bahwa tempat berlindung manusia adalah “رَبّ النَّاسِ” (Rabb manusia). Ini menunjukkan bahwa Allah layak untuk dimintai perlindungan. “Rabb” adalah yang menciptakan, memelihara, memberikan perlindungan, dan memberi rizqi.
Mengapa bukan “رَبِّيْ” (Rabb-ku) saja? Penekanannya pada segi otoritas/keluasan wewenang. Seumpama, jika dibandingkan antara berlindung kepada Satpam Kantor dengan berlindung kepada Kapolri, tentu terasa bedanya. Cakupan tanggung jawab dan wewenang Kapolri lebih tinggi. Demikian pula berlindung kepada Rabb-nya seluruh manusia, yang mampu melindungi seluruh manusia, bukan hanya bisa melindungi satu/beberapa orang manusia saja.
Surah An-Naas ayat pertama ini juga mengoreksi budaya orang-orang musyrik di Arab pada waktu itu, yang suka minta “permisi” pada “sang penghuni” setiap melewati tempat-tempat tertentu. Dan sepertinya, budaya yang dapat menjerumuskan ke dalam kesyirikan tersebut bukan hanya ada di Arab saja.. ;)

Ayat 2

مَلِكِ النَّاسِ “Raja manusia.”
Allah-lah yang menjadi Raja dari seluruh manusia, bahkan dari seluruh raja yang ada di dunia. Dalam surah Al-Fatihah juga terdapat sebuah ayat yang memiliki dua versi cara membaca (qiro-ah):
مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ “Yang menguasai Hari Pembalasan.”
مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ “Raja Hari Pembalasan.”
Terdapat perbedaan makna antara kata “مَالِك” dan kata “مَلِك“:
  • مَالِك” artinya “yang memiliki”.
  • مَلِك” artinya “raja (yang memiliki sekaligus menguasai)”.

Ayat 3

إِلَٰهِ النَّاسِ “Sesembahan manusia.”
Definisi kata “إِلٰه” yaitu “سَكَنَ إِلَيْهِ“, yang artinya: kita bisa “tenang kepadaNya”. Kaum kafir Quraisy sebenarnya mengakui Allah sebagai Tuhan. Namun mereka tidak akan mau jika diminta menyatakan “لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰه (Tiada tuhan/sesembahan selain Allah)”, karena mereka masih mengakui sesembahan-sesembahan lain selain Allah. Hubal, Latta, Uzza, Manat, adalah contoh nama-nama berhala yang mereka sembah. Abu Jahal, paman Rasulullah SAW, bahkan pernah melanggar sumpahnya sendiri, hanya karena tidak mau mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Ada perbedaan antara permohonan perlindungan seorang hamba kepada Allah di Surah An-Naas dengan di Surah Al-Falaq:
  • Di Surah An-Naas, kita memohon perlindungan kepada رَبّ, مَلِك, dan إِلٰه, dari satu jenis kejahatan.
  • Sedangkan di Surah Al-Falaq, permohonan perlindungan ditujukan kepada رَبّ saja, dari empat macam kejahatan.
Apa maknanya? Godaan/kejahatan lahiriah (surah Al-Falaq) dapat diupayakan penanggulangannya secara riil (tanpa mengesampingkan peran Allah). Sedangkan terhadap godaan ghoib (surah An-Naas), kita hanya dapat berpasrah diri saja memohon perlindungan Allah. Musuh yang tersembunyi selalu lebih berbahaya daripada musuh yang jelas-jelas menampakkan dirinya.

Ayat 4

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ “Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,”
خَنَّاس (khonnaas) dapat berarti “yang timbul tenggelam”. Syaitan ini bersembunyi di dalam jantung/hati manusia. Ia akan timbul saat manusia lalai dari menyebut nama Allah, dan tenggelam kembali setiap manusia mengingatNya. Kata Syaitan berakar dari kata شَطَنَ, yang berarti بَعُدَ (jauh). Jauh dari jalan Allah.

Ayat 5

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”
Syaitan tak pernah secara terang-terangan menyuruh manusia berbuat kejahatan, karena dengan kecerdasan yang telah Allah karuniakan, manusia pasti akan menolaknya. Akan tetapi, secara licik syaitan berbisik di dalam hati manusia untuk berupaya membuat seolah-olah kejahatan itu terasa baik oleh manusia.
Dari jantung yang merupakan pusat aktivitas organ dan lokasi pemompa darah ke seluruh tubuh manusia, syaitan dapat mengalir dan menyebabkan bagian-bagian tubuh manusia berbuat maksiat, jika ia tidak mengingat Allah.

Ayat 6

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ “dari (golongan) jin dan manusia.”
Syaitan dapat berwujud sebagai jin maupun sebagai manusia. Kaum jin ada yang taat kepada Allah, ada pula yang jauh dari jalan Allah. Sama halnya dengan manusia. Jin ataupun manusia, yang jauh dari jalan Allah, itulah syaitan.
Mengapa dalam ayat keenam tersebut kejahatan jin didahulukan dari kejahatan manusia? Kata جِنّ (begitu pula kata جَنِيْن) berasal dari kata جَنَّ yang berarti “tersembunyi”. Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahaya yang tidak nampak sesungguhnya lebih besar daripada yang nampak.
Terhadap bahaya dari jin, kita tak seharusnya mengumpat/menghardiknya, karena hanya akan membuatnya lebih kuat. Selalu mengingat Allah, dan berupaya untuk tetap di jalanNya. Itulah kuncinya.
Wallaahu a’lamu bisshowaab.